Seorang Wanita dengan Kenangan yang Jingga


Agustin Handayani.


Semua ini terlalu ramai untuk hati yang sepi. Seakan mengejekku yang tengah sendiri dengan hati gundah gulana. Langit juga terlalu jahat melengkapi kesendirianku. Ia berikan senja yang sempurna dan indah untuk melemparkanku pada kenangan beberapa tahun yang lalu. Kenangan yang sama, lelaki yang sama, hati yang sama, tapi takdir yang berbeda.

Kembali aku melangkah menyusuri keramaian ini. Stan-stan yang berdiri kokoh dengan jajanan beraneka ragam. Mungkin kali ini aku harus melupakan dietku lagi demi menikmati jajanan ini. Atau, aku bisa membeli beberapa buah segar di stan paling Utara, dekat dengan penjual kerupuk. Namun, nanti dulu. Aku masih harus mengikuti kaki yang terus melangkah, sesekali berhenti saat melihat makanan yang menggiurkan.

Ini pesta. Hanya seminggu di kotaku. Hanya seminggu pula kenangan itu datang bagai hujan yang deras di setiap jejak langkah ini.

"Ini namanya gula kapas. Sensasinya saat kamu diamkan dalam mulut hingga habis." Suara lelaki di kenangan dua tahun silam.

Seperti aku yang berada di depan bapak paruh baya penjual gula kapas. Lelaki yang fokus dengan gula kapas yang ia gulung, ah, benarkah bahasaku? Masalahnya aku tidak pandai berbahasa.

Dulu, aku pernah berada di sini. Di depan bapak-bapak dengan gula kapas yang dibuatnya -pesanan kami. Sesekali kami akan saling menggoda dengan tawa setelahnya. Saling lempar candaan yang kadang berujung godaan receh. Benar-benar kisah manis. Setelah pesanan selesai, kami akan mencari tempat duduk paling dekat. Bahkan bisa saja kami duduk di tengah keramaian dengan cuek, tanpa menghiraukan orang lain, kami nikmati gula kapas itu. Tidak dimakan, hanya diletakkan dalam lidah dan biarkan habis begitu saja.

Ia tertawa, dan sekitar kami terasa semakin indah.

Kembali kaki melangkah. Kali ini ada permainan memasukkan paku dalam mulut botol.

"Kamu tahu kunci untuk berhasil?" ujarnya melirikku sekilas, dan kembali memperhatikan ibu-ibu yang berusaha memasukkan paku ke dalam botol. Paku yang digantung dengan benang dan dimasukkan dalam mulut botol, hal mudah tapi sebenarnya sulit.

"Apa?" tanyaku tanpa mengalihkan fokus.

"Permainan waktu dan tenang." Dia menunjukkan ibu-ibu yang gagal. "Sebenarnya  kita tidak perlu buru-buru untuk mendapatkan sesuatu. Nikmati dan pelajari kesalahan orang lain dan diri sendiri. Peka pada strategi kemenangan. Gagal satu strategi, kita harus cepat-cepat ganti strategi lainnya. Jangan suka mengulang kegagalan."

"Alah. Gampang kamu ngomong!" cibirku. Aku menegakkan badanku. Memandangnya yang masih fokus pada salah satu lubang di botol itu. Mungkin di otaknya sedang memproses strategi yang dimaksud. Namun, baru aku berpaling sebentar, dia kembali hilang. Seperti biasa. Hanya meninggalkan kenangan.

Aku putuskan berhenti di depan panggung utama. Di sana seseorang sedang berlatih dengan teman-temannya. Tampak lelah, tapi mempesona dalam waktu yang bersamaan.



"Tampilkah hari ini?"

Send. Kukirim pesa singkat pada kawan itu.

Mr. A
"Iya. Tapi diakhir acara. Doakan lancar, ya!"

"Amin." Balasku cepat.

Aku kembali memasukkan ponsel itu ke dalam tas kecil. Memandang ke atas panggung. Di sana kawan itu tampak  memberikan petunjuk pada timnya. Sesekali akan menegur yang lain saat mengganggu konsentrasinya.

"Dia memang tampan, kan?"

Aku menoleh. Dia lagi. Sebentar! Mari kita lihat seberapa lama dia di sini.

Aku mengangguk sebagai jawabannya. Menghitung dalam hati sampai kapan dia betah berada di sampingku.

"Lebih tampan dia daripada aku, kan?" Kali ini suaranya rendah. Sarat akan sebuah kesedihan di sana.

Aku tak menjawab. Sama-sama bungkam.

"Aku harap dia bisa memberikan kenangan yang lebih indah," ujarnya pelan. Aku tak mau menjawab. Tidak yakin dengan harapannya.

Tiba-tiba dia hilang. Dan saat itu, kenangan seakan bergulir.

Di depan sana, di sebuah waktu yang lalu, dengan tempat yang sama.

Seorang wanita meninggalkan kekasihnya demi lelaki lain. Ia tidak perduli dengan ajakan sang kekasih untuk segera pergi dan menghabiskan waktu berdua. Karena tidak akan ada lagi waktu berdua setelah itu. Setelah salam perpisahan dengan doa-doa yang mengiringinya kembali pada sang pencipta keesokannya. Tidak akan ada lagi cinta dari sang lelaki. Hanya ada sang wanita, kesedihan, penyesalan, dan segala kenangan yang jingga.


Wanita itu adalah aku.



Probolinggo, 19 September 2019




1 Comments